BEHAVIOR BASED SAFETY

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah proses yang berkesinambungan dengan melibatkan semua pihak yang ada dalam organisasi tersebut, sehingga apabila masing-masing anggota telah berperilaku berbasis K3 diharapkan akan tercapai budaya K3 dalam organisasi tersebut.  Teori Heinrich (Dalam Geller, 2001) tentang keselamatan kerja menyatakan bahwa perilaku tidak aman (unsafe behavior) merupakan penyebab dasar pada sebagian besar kejadian hampir celaka dan kecelakaan di tempat kerja.

Behavior Based Safety (BBS) merupakan aplikasi sistematis dari riset psikologi tentang perilaku manusia pada masalah keselamatan (safety) di tempat kerja yang memasukkan proses umpan balik secara langsung dan tidak langsung. BBS lebih menekankan aspek perilaku manusia terhadap terjadinya kecelakaan di tempat kerja. Menurut Geller (2001), BBS adalah proses pendekatan untuk meningkatkan keselamatan kesehatan kerja dan lingkungan dengan jalan menolong sekelompok pekerja untuk:

  1. Mengidentifikasi perilaku yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
  2. Mengumpulkan data kelompok pekerja.
  3. Memberikan feedback dua arah mengenai perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
  4. Mengurangi atau meniadakan hambatan sistem untuk perkembangan lebih lanjut.

Jika dibandingkan dengan keselamatan tradisional ternyata BBS memiliki beberapa perbedaan. Behavior based Safety sifatnya menurukan kebiasaan atau perilaku yang beresiko, fokus pada pengamatan kebiasaan pekerja yaitu kebiasaan umum  yang menempatkan pekerjaan pada suatu resiko yang tercatat lalu kemudian dilakukan perbaikan. Sedangkan Traditional Safety, sifatnya reactive atau fokus pada perbaikan atas apa yang telah terjadi dan meminimalkan kondisi tidak aman. Maksudnya adalah dimana keselamatan dan kesehatan dipadukan dalam peran pengawasan, dan ‘orang penting’ adalah pengawas dan/atau spesialis keselamatan dan kesehatan, karyawan-karyawan turut dilibatkan tetapi keterlibatan mereka tidak dipandang penting bagi pelaksanaan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan, atau komite keselamatan. Sistem ini mencari akar masalah dai suatu insiden dengan menggunakan data insiden dari investigasi. Contohnya Incident dan Severity Rate. Dari perbedaan diatas kenapa BBS lebih cenderung mengarah kepada kebiasaan/ perilaku pekerja atau manusianya, itu dikarenakan kebiasaan berbicara ke manusianya dan tidak untuk memperbaiki keadaan.

Selanjutnya, setelah mengetahui tentang BBS, maka kita lakukan implementasi BBS. Berikut merupakan hal penting yang harus diperhatikan sebelum melakukan implementasi BBS:

  • Designs the BBS process
  • Develops the implementation strategy
  • Implements the BBS process
  • Steers the BBS process

Selain itu, perlu juga adanya tanggung jawab dari pihak manajemen dan pegawai pengawas, yaitu:

  • Memahami prosesnya (mendapatkan training)
  • Membuat BBS menjadi bagian pada pekerjaan
  • Membantu mengidentifikasi dan memperbaiki kekurangan dalam sistem
  • Menghilangkan batasan-batasan yang tidak perlu
  • Memberikan :
    • dukungan waktu untuk training bagi komite BBS dan melaksanakan pertemuan
    • dukungan waktu untuk melakukan observasi
    • dukungan untuk medorong dan menyediakan penguatan positif bagi pekerja , observer, dan komite BBS

Apabila  hal penting yang harus diperhatikan sebelum melakukan implementasi BBS telah dipenuhi, maka selanjutnya melakukan langkah-langkah penerapan BBS, yaitu:

  1. Membuat target yang memungkinkan
  • Target harus berfokus pada hasil BUKAN behaviors
  • Buat target SMART:

Specific (Detail) – Motivational (Memotiviasi)– Attainable (Tercapai)– Relevant  (Sesuai)– Trackable (Berjejak)

Contoh :

Target “zero-injuries” itu TIDAK SMART, tapi target 80 partisipasi karyawan dalam pelaksanaan training keselamatan adalah SMART

 

2. Mengembangkan Ceklist Observasi

Dalam menemukan kebiasaan bekerja selamat ada beberapa cara :

  • Review laporan insiden sebelumnya untuk mengidentifikasi kebiasaan yang dapat mencegah itu semua.
    • Fokus pada hal terbesar yang dapat mencegah terjadinya insiden.
  • Diskusi dengan Pekerja dan Manajemen.
    • Penting untuk pekerja mengambil tanggung jawabnya dalam melakukan aktifitas
    • Keuntungan lainnya untuk membangun kepercayaan.
  • Melakukan observasi pekerja secara terjadwal

 

3. Observasi

Pertimbangan dalam melakukan observasi:

  • Siapakah Yang Akan Di Observasi?
    • Self-observation
    • Peer-to-peer
    • Top-down
    • Working groups
  • Frekuensi observasi?
    • Harian, mingguan, bulanan
  • Bagaimana umpan balik akan diberikan??
    • Segera
    • Dalam waktu seminggu

 

3 Tanggung Jawab Utama observer:

  • Mengumpulkan data
    • Data observasi (aman/menjadi perhatian)
    • Data diskusi (Apa/Mengapa)
  • Memberikan umpan balik berupa:
    • Dorongan positif untuk kebiasaan yang selamat
    • Menyediakan coaching dan perhatian
  • Objective / Tidak berprasangka

Tugas Observer TIDAK UNTUK :

  • Memata-matai pekerja,
  • “Menangkap” orang yang berbuat tidak aman,
  • Mengkritisi performa pekerja,
  • Menjadi “Polisi Keselamatan” (risiko vs. aturan; benar vs. salah; amam vs. tidak aman),
  • Memperhatikan tugas atau pekerjaan,
  • Memaksa orang untuk berubah,
  • Merubah orang untuk selalu disiplin,

 

4. Memberikan Umpan Balik

Memberikan umpan balik kepada pekerja merupakan suatu cara yang penting.  Beberapa metode umpan balik yang terbukti menguntungkan:

  • Ucapan – Segera memberikan umpan balik selama proses obervasi.
  • Membuat laporan tertulis setelah semua data observasi terkumpul.
  • Memperlihatkan grafik perfoma dimana semua orang dapat melihat.
  • Memberikan perayaan atas atau memberikaan insentif lainnya.

 

Apakah anda ingat dengan teori iceberg? Bahwa suatu permasalahan harus dicari dari akarnya. Penerapan BBS ini sangat tepat untuk mencari akar permasalahan yang berkaitan dengan penyebab kecelakaan. Hal ini dikarenakan BBS berkaitan dengan perilaku pekerja yang bekerja secara tidak aman menjadi bekerja secara aman.

Jadi, buat apa berfikir dua kali untuk menerapkan BBS?

Sudah jelas bahwa, keuntungannya lebih banyak daripada biaya yang dikeluarkan yaitu menghemat waktu, uang, dan juga energi.  Selain itu, dapat mengubah sikap dan perilaku baik itu diantara para pekerja maupun antara pekerja dengan manajer.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *